.quickedit{ display:none; }

13/12/12

Sudah Ngopi Belum?

Tidak seperti tradisi minum teh yang agung di Cina dan Jepang, ngopi adalah satu kegiatan yang kurang memiliki kelas di kawasan Sumatera. Kalaupun saat ini kebutuhan minum kopi mulai berkembang, tapi aspek “gaya hidup”-nya masih terbatas pada komunitas kecil yang elitis. Harga kopi berkualitas tinggi hanya bisa dijangkau sedikit orang, karena tradisi ngopi dan segala instrumennya selalu berkiblat ke Eropa. 

Sementara kebiasaan ngopi secara tradisional tidak berkembang ke level yang lebih baik. Opal Coffee, sebuah brand lokal yang mencoba menaikkan derajat kopi olahan Sumatera ke kelas yang lebih bermartabat, harus berkompetisi ketat dengan brand Eropa seperti Starbucks, Dome, Excelso, dan lain-lain. 

Perkembangan Opal Coffee menjadi agak lamban karena lemahnya upaya edukasi ke masyarakat, sementara posisinya masih tergolong muda di antara merek-merek dunia lainnya. Di dataran tinggi Aceh sampai Lampung, orang-orang memang mengkonsumsi kopi bubuk setiap hari. Bahkan, beberapa nama kopi seperti kopi sidikalang dan kopi gayo cukup melegenda di daerah ini. Enak, kata beberapa orang. Tapi sayang sekali, cara mereka meminum kopi tidak pernah berkembang ke tingkat peradaban yang lebih tinggi. Penduduk lokal tidak tergerak untuk bersaing di wilayah kualitas, sehingga kopi mereka tak masuk dalam daftar kopi bergengsi dunia. 

Padahal, sebenarnya biji kopi hasil pertanian mereka selalu dibeli para produsen Eropa untuk kemudian diolah dengan brand lain. Bandingkan dengan tradisi cerutu kuba. Para petani di sana menanam pohonnya, dan mereka juga yang membesarkan brand-nya hingga menjadi gaya hidup dunia yang masuk dalam kelas utama. Bahkan seorang Interhamwe (milisi Hutu) paling keji di Rwanda pun bisa “jinak” oleh sebatang ceruta kuba. Atau lihatlah tradisi Swiss yang mengembangkan kualitas pengolahan coklat hingga ke level premium. Padahal mereka tak menanam sebatang coklat pun di negerinya. 

Kita pun sebenarnya dulu punya tembakau deli yang tenar seantero jagad. Tapi sayang, orang Belanda-lah yang justru memperkenalkannya ke dunia. Kemudian PTPN II merusak citranya dan tak becus menanganinya. Hari ini, Sumatera memiliki pertanian kopi yang luas. Para petani kopi tersebar dari Aceh hingga Bengkulu. Ada yang bertani secara tradisional, dan ada yang sudah terorganisir serta sudah melakukan mekanisasi. Tapi kita hanya bisa memperkenalkannya ke orang lain dengan cara minum kopi kelas comberan. Kitalah yang menempatkan kopi Sumatera sebagai kopi bobrok bercampur bubuk jagung di pinggir jalan. Entah di mana letak art, kelas, dan kepribadiannya. Tapi itulah posisi kita sementara ini. Siapapun di antara kita, harus menjadi kelompok eksekutif dulu, baru bisa menikmati segelas kopi bagus di pusat perbelanjaan umum. Suryo Pranoto, Direktur Utama PT. Sari Makmur Tunggal Mandiri yang memproduksi Opal Coffee di Medan, mengaku prihatin dengan tingkatan dan gaya konsumsi masyarakat Sumatera terhadap komoditas mereka sendiri. 

 Dalam sebuah kesempatan wawancara, dia menekankan rendahnya apresiasi dan ekspektasi masyarakat Sumatera terhadap produk-produk kopi lokal. “Padahal kita memiliki variasi kopi yang sangat kaya, unggul, bahkan bersaing dengan Brazil. Tapi belum ada upaya serius untuk mengembangkan produk-produk kopi agar go international,” katanya. PT. Sari Makmur sendiri sudah mencoba mengembangkan produk-produk kopi lokal berkualitas tinggi dengan konsep kopi murni. Variannya memang belum banyak. Untuk pasar umum, mereka menjual kemasan bubuk robusta dan arabika, sedang untuk produk siap saji, mereka bekerjasama dengan hotel-hotel dan restoran dengan menyediakan outlet khusus di dekat lobby. Kelas peminum kopi di Sumatera pada umumnya masih terbatas pada kelompok muda yang cenderung menikmati kopi plus dalam sachet. Alasannya karena simpel dan bisa disajikan di mana saja. Mereka tidak perlu memikirkan sebuah “ritual” atau apresiasi yang tinggi terhadap kopi sebagaimana orang Jepang memperlakukan sake atau teh. Kelas seperti ini bisa menikmati kopi di kantor, kedai kopi, atau tempat-tempat hang out yang umum. Henni Pandiangan, misalnya. Direktur program sebuah radio swasta di Medan ini sudah terbiasa menyiapkan secangkir cappuccino hangat di sela-sela kerjanya. “Saya sudah menikmati kopi sejak masih duduk di bangku SMA. Awalnya karena harus begadang menghadapi ujian masuk perguruan tinggi,” tuturnya. Bagi Henni, kopi hanyalah alat untuk melawan ngantuk, yang kemudian berkembang menjadi kebiasaan. Di Eropa, kopi sangat populer, terutama di musim dingin. Mereka bahkan sudah terbiasa mengkonsumsi kopi murni sebagai teman makan siang atau memulai aktivitas baru di pagi hari.

 Kopi dan anggur adalah dua hal yang membuat orang Eropa memiliki sensitifitas terhadap nilai-nilai, kelas, selera, gaya, dan apresiasi. Mereka bisa saja bersifat urakan, tapi tidak pada saat minum kopi atau menghadapi segelas anggur mahal. Di beberapa negara yang fanatik seperti Amerika Serikat, kegiatan meminum kopi menuntut satu pengetahuan tersendiri. Para penikmat kopi sangat peka terhadap mutu kopi, jenis, dan cara menyajikannya. Dalam kesempatan tertentu, mereka bahkan mengadakan jamuan kopi internasional dan saling menguji berbagai rasa kopi dunia. Ternyata, kopi yang tumbuh di satu wilayah, tidak akan pernah punya rasa yang sama dengan kopi di wilayah lain, meskipun tanamannya terdiri dari varietas yang sama. Cara menyajikan kopi juga membutuhkan satu tata cara yang tidak mudah dan selalu berpengaruh pada cita rasa akhir. Rika, misalnya, seorang eksekutif muda di Medan berpendapat, menyeduh kopi di dalam cangkir batu dengan cangkir kaca atau plastik, akan memberikan rasa yang berbeda. “Kopi akan terasa lebih kental jika diteguk dari cangkir batu. Rasa dan aromanya lebih terasa,” ujarnya. *** 

Berikut ini adalah ungkapan yang menarik dari Ahmad Abdullah, Supervisor Dome Cofe, di Sun Plaza Medan. Menurutnya, menjadi peminum dan penikmat kopi adalah dua hal yang sangat jauh berbeda. Kelas peminum cenderung hanya membiarkan kopi lewat tenggorokan lalu hilang di perut, tapi kelas penikmat sangat menghayati setiap tahap minum kopi. “Meneguk kopi sama seperti menikmati anggur. Aroma menjadi daya pikat pertama, lalu dikulum untuk menikmati rasanya. Jadi tidak seperti kebanyakan peminum yang langsung ditelan seperti gaya orang kehausan,” katanya. Bagi banyak peminum kopi, gula menjadi bagian wajib dari kegiatan meminum kopi. Padahal, penambahan gula bagi beberapa penikmat kopi justru bisa mengurangi rasa kopi itu sendiri. “Jika tak ingin terlalu pahit, boleh saja menuangkan gula, namun dalam jumlah sedikit,” tambah Ahmad. Rasa pahit dalam kopi, bagi sebagian besar orang, adalah siksaan. 

Tapi unsur pahit dalam kopi bagi seorang penikmat justru menjadi medium menuju kesempurnaan rasa. Rasa pahit itu hanya timbul sekejap, dan itu juga tergantung dari jenis kopinya. “Untuk kopi terbaik, rasa pahit akan tinggal di tenggorokan dalam 15 detik. Saat akan menyeduh kopi dengan air panas, usahakan menggunakan air mendidih yang belum terlalu lama mendidihnya. Ini dimaksudkan agar cita rasa kopi tidak hilang. Bagi penikmat espresso, penambahan gula tidak diperlukan, karena bagi mereka rasa pahit itulah yang dinikmati,” jelas Ahmad. Kemunculan outlet-outlet kopi franchise di Sumatera, sebenarnya adalah gejala tersedianya pasar baru terhadap kopi-kopi kelas premium. 

Para penikmat kopi sejati mulai tumbuh di pulau ini. Ini sekaligus menjadi momentum yang baik untuk menciptakan image baru terhadap kopi lokal. Harus ada upaya eksplorasi dan penggalian karakter kopi lokal agar kopi kita punya posisi bagus di antara kopi-kopi dunia. *** Jenis kopi yang paling banyak dikonsumsi hari ini adalah robusta dan arabika. Untuk kopi instan, robusta menjadi pilihan karena harganya lebih murah dibanding arabika. Hal itu disebabkan kandungan kafein robusta lebih tinggi, yakni antara 2,8 sampai 4,0 persen. Sedang kandungan kafein arabika hanya antara 1,0 sampai 1,7 persen, sehingga lebih aman mengkonsumsinya. Tapi menurut Suryo Pranoto, pilihan konsumen terhadap kedua jenis kopi tersebut sebenarnya tidak terlalu dipengaruhi oleh tingkat kandungan kafein. 

“Kecenderungan tiap negara dalam memilih jenis kopi berbeda-beda. Masing-masing dipengaruhi oleh tradisi makan di negara bersangkutan. Orang Jepang yang makan seafood, cenderung menyukai arabika yang pahit. Sedang orang Eropa yang sehari-hari mengkonsumsi daging lebih menyukai robusta yang lebih asam,” jelasnya. Tingkat keasaman dan kepahitan kopi pun masih dibedakan dengan hal-hal rumit lainnya. Setiap kopi akan berbeda karena iklim wilayah, kandungan tanah, lama penyimpanan, metode pengolahan, hingga cara penyajian. Jadi, rumit sekali. Menjadi seorang penikmat kopi sama saja artinya dengan menjadi seorang pelajar yang tekun, berlatih dengan rajin, dan berdiskusi sering-sering. Itu pun, Anda tidak akan pernah menerima ijazah. 

Nah, apakah Anda sudah siap melihat kopi dengan cara berbeda? 
--------------------- 

Istilah-istilah sajian kopi: 
1. Mocca = Campuran kopi, coklat dan susu. 
2. Cappuccino = Campuran kopi, susu dan coklat powder dengan buih di atasnya. 
3. Latte = Campuran kopi dan susu tanpa buih. 
4. Espresso = Kopi asli tanpa campuran. 
5. Macciato = Kopi double espresso dan susu. 

oleh tikwan raya & silvie azhar foto oleh putra perwira guna lubis 


====================
Produk-produk CNI telah terkenal sebagai produk-produk bermutu tinggi baik dari segi manfaat maupun kualitasnya. Sebagai bukti komitmen CNI pada kualitas, CNI telah memiliki sistem Jaminan Kepuasan Konsumen (JKK).


Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”
 
Untuk info & Pemesanan :

HUB : MUHAMAD IPANGO
Telp / Hp : 021-7816369
/ 0815 2363 9145 / 0816 160 5367

Kunjungi Toko Online kami di :  




Simak Info Kesehatan di :