.quickedit{ display:none; }

07/12/12

Kopi dan Ngopi Ala Aceh

A. Pendahuluan 
Berbicara tentang Aceh, kita dapat mengidetifikasikan dengan beberapa kata, seperti Serambi Mekkah, Baiturrahman, Saman, Daerah Istimewa, dan sebagainya. 

Sedangkan Irwan Abdullah (2007), memberikan ikon keberadaan ureueng Aceh dengan empat ikon, yaitu: Aceh dikenal sebagai tempat dimana agama dan adat menjadi dua pilar penting dalam penataan sosial, ureueng Aceh dikenal sebagai pemberani, Ureueng Aceh memiliki kepercayaan tinggi yang disebabkan oleh adanya kebanggaan sebagai ureueng Aceh, dan ureueng Aceh menjunjung tinggi nilai-nilai kolektif yang tercermin dari kebiasaan Aceh untuk berkumpul, saling kunjung, kenduri, fenomena warung kopi, serta upacara-upcara yang melibatkan banyak orang (Wibowo, 2004). 

Terkait dengan pernyataan Irwan Abdullah di atas, terdapat pengalaman menarik, yaitu ketika pada tahun 1996, penulis menginjakkan kaki pertama di Banda Aceh. Ketika itu Banda Aceh tidaklah seramai sekarang. Kehidupan masih kental dengan nuansa keacehannya. Dari hari ke hari, penulis mengetahui kehidupan keseharian masyarakat Aceh, khususnya yang ada di ibukota Provinsi Aceh ini. Dari banyak hasil amatan terhadap perilaku warga Banda Aceh, penulis amat tertarik terhadap kebiasaan kebiasaan minum kopi di warung/kedai. 

Pada bagian lain, setelah penulis tinggal beberapa tahun di Aceh penulis pernah mendengar bahwa terdapat sebuah ungkapan “belum ke Aceh, apabila belum merasakan kopi ala Aceh di warung kopi”. Oleh karena itu, menjadi sebuah “keharusan” apabila ada tamu-tamu dari luar Banda Aceh, penulis ajak untuk merasakan kopi dan ngopi ala Aceh di beberapa warung/kedai kopi yang ada di kota ini, seperti warung kopi Abu Solong di Uleekareng. Kesan yang penulis tangkap dan pernyataan mereka sendiri bahwa kopi Aceh sangat berbeda dengan kopi dari daerah lain di Indonesia dan ngopi di Aceh sungguh amat mengasyikkan. 

B. Kopi Ala Aceh 

Tanaman kopi di dunia kini ada banyak spesies. Namun yang banyak digunakan untuk minuman berasal dari spesies Arabica dan Robusta. Negeri penghasil kopi Arabica bermutu baik tersebar di lingkar tropis seluruh dunia, yaitu Costa rica, Guetemala, Honduras, Mexico. Nicaragua, Panama, Bolivia, Brasil, Columbia, Equador, Peru, Burundi, Congo, Ethiopia, Kenya, Tanzania, Rwanda, Uganda, Zambia, India, Papua Nugini, Hawaii, Puerto Rico, Jamika, Dominika hingga Saint Helena. 

Menurut catatan pengamat kopi internasional menyebutkan bahwa Indonesia dalam beberapa lokasi khusus yaitu Jawa, Bali, Sumatra, Aceh (Aceh Tengah dan Bener Meriah) Sulawesi (Toraja) dan Timor. Sedang Robusta sendiri banyak dihasilkan di India dan Uganda. Khususnya kopi Toraja yang diproduksi secara khusus oleh perkebunan di Toraja berada pada grade one, yang terbaik. Saat ini di Aceh terdapat dua jenis kopi yang dibudidayakan adalah kopi Robusta dan kopi Arabica. Untuk kopi jenis Arabica umumnya dibudidayakan di wilayah dataran tinggi “Tanah Gayo”, Aceh Tenggara, dan Gayo Lues, sedangkan di Kabupaten Pidie (terutama wilayah Tangse dan Geumpang) dan Aceh Barat lebih dominan dikembangkan oleh masyarakat disini berupa kopi jenis Robusta. 

Kopi Arabica agak besar dan berwarna hijau gelap, daunnya berbentuk oval, tinggi pohon mencapai tujuh meter. Namun di perkebunan kopi, tinggi pohon ini dijaga agar berkisar 2-3 meter. Tujuannya agar mudah saat di panen. Pohon Kopi Arabica mulai memproduksi buah pertamanya dalam tiga tahun. Lazimnya dahan tumbuh dari batang dengan panjang sekitar 15 cm. Dedaunan yang diatas lebih muda warnanya karena sinar matahari sedangkan dibawahnya lebih gelap. Tiap batang menampung 10-15 rangkaian bunga kecil yang akan menjadi buah kopi. Dari proses inilah kemudian muncul buah kopi disebut cherry, berbentuk oval, dua buah berdampingan (Wibowo, 2007). 

C. Ngopi Ala Aceh 
Di Aceh, tradisi minum kopi, makan dilanjutkan ngobrol di warung kopi, seperti sepintas dipaparkan di atas bukanlah sebuah kebiasaan baru yang muncul akhir-akhir ini. Kebiasaan itu dipercaya sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu, terutama di kawasan pelabuhan dan pusat perdagangan. Meski pada saat itu sangat mungkin menu dan minumannya bukan kopi, tetapi kebiasaan nongkrong dan ngobrol utk “membunuh” waktu sudah berlangsung turun temurun. Lombard (2008) menulis bahwa Peter Mundy pada April 1637 dengan susah payah berhasil mencapai tempat berlabuh di Aceh. 

Peter Mundy memberitakan bahwa ada yang menjual telur penyu rebus. Warung-warung mereka masing-masing dipungut bea sekeping emas sebulan untuk orang kaya Sri Maharaja. Untuk sementara, catatan Peter Mundy pada April 1637 itu setidak-tidaknya bisa dijadikan dasar keberadaan sebuah ruang publik yang dikenal dengan warung (rumah makan) di wilayah Aceh (Kompasiana, 211). 

 Pada bagian lain terdapat pendapat bahwa keberadaan dan kebiasaan makan minum di warung muncul setelah Belanda “mengajarkan” tradisi minum kopi. Belanda mempunyai peran penting dalam membudidayakan tanaman kopi di Indonesia. Mereka telah memperkenalkan tanaman Kopi Arabika (coffea arabica L.) di Pulau Jawa pada tahun 1699. Di Aceh, tepatnya di Dataran Tinggi Gayo Aceh Tengah, mereka mulai membangun perkebunan Kopi Arabika pada tahun 1924 di daerah Paya Tumpi. 

Kini, Dataran Tinggi Gayo yang meliputi Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah secara nasional menjadi kawasan tanaman Kopi Arabika terluas di Indonesia. Agak berbeda dengan dua pendapat di atas, Teuku Zulkhairi (2011) menyatakan bahwa dari aspek historis, tradisi minum kopi di Aceh sudah ada sejak masa kerajaan Islam Aceh. 

Mengutip pendapat Sebagian sejarawan yang meyakini tradisi ini merupakan budaya imporan dari Dinasti Turki Usmani(Khilafah Islamiyah) yang saat itu juga memiliki tradisi yang sama. Kita ketahui bahwa Kerajaan Islam Aceh Darussalam dahulu memiliki hubungan yang sangat erat dengan kekhalifahan Islam Turki Usmani, hubungan erat ini pula yang akhirnya menyebabkan terjadinya asimilasi (percampuran) budaya Hal ini misalnya seperti yang diakui oleh Muhammad Alkaf, bahwa tradisi minum kopi masyarakat Aceh di era sekarang ini merupakan bagian dari pertemuan Aceh dengan peradaban lama Turki Usmani yang Islam ketika itu, maka sangat relevan bila kemudian penulis memilki inisiatif bagaimana agar pengaruh dari tradisi minum kopi di Aceh kita kembalikan ruhnya sebagai titik tolak bagaimana melihat perdaban Aceh masa depan berkaca pada peradaban awal Aceh yg telah bersentuhan dengan Turki Usmani sebagai ‘Kekhalifahan Islam’ di masa lalu (Kompasiana, 2011) 

Menilik keberadaan dan fungsi warung kopi di Aceh, pada prinsipnya tidak berbeda jauh dengan fungsi lapau di Sumatera Barat. Menurut Pandoe dan Pour (2010:256) bahwa fungsi lapau menjadi pusat informasi. Sesama pengunjung lapau mengobrol soal macam-macam hal, mulai kehidupan sosial sampai “politik tinggi” dalam dan luar negeri. Bisa juga mempergunjingkan para pejabat, menganalisis sepakbola, atau membicarakan sinetron yang mereka tonton di televisi. Interaksi manusia di lapau seperti yang ditulis Pandoe dan Pour persis sama dengan interaksi sosial dan lalu lintas informasi yang terjadi di warung-warung kopi yang ada di Aceh. 

Demikian juga dengan topik pembicaraan para peminum kopi di ruang publik, warung kopi, berkisar pada masalah kehidupan sosial, politik, sepakbola dan ajang berbagi pengalaman dibidang usaha dagang serta pertanian. Telah disebutkan bahwa pada masyarakat Aceh terdapat kebiasaan ngopi di warung yang terdapat pada berbagai sudut kota. Kebiasaan ini jarang ditemui pada beberapa masyarakat lain di Indonesia. Betapa tidak, kebiasaan ini dapat dilihat di hampir semua sudut kota atau desa di Aceh. Keberadaan kebiasaan minum kopi di warung ini tidak hanya sebagai ajang pelepas lelah setelah berbelanja di pasar/toko, tetapi nampaknya telah berubah menjadi ajang untuk kumpul-kumpul di kalangan masyarakat Aceh. 

Nampaknya, kebiasaan ini telah membudaya di kalangan masyarakat. Mereka tidak datang sendirian ke warung kopi, tetapi tidak jarang mereka datang bergerombol sehingga menjadi menarik karena hal ini dapat dijadikan sarana untuk membicarakan berbagai hal, mulai dari hal-hal kecil sampai masalah politis. Waktu yang digunakan pun kadang pagi sampai malam hari. Pembicaraan di warung kopi ini lebih terasa asyik dan nikmat apabila warung/kedai tersebut menyediakan seperangkat alat hiburan seperti TV, Radio/tape, atau video. Tidak terasa duduk di warung/kedai kopi tersebut dapat berjam-jam lamanya. Bahkan lebih mengasyikkan lagi, apabila warung kopi tersebut dilengkapi fasilitas wifi untuk internet. Jadi, sambil “berselancar” dalam dunia maya bisa ngobrol, belajar, “ngrumpi” sambil minum kopi (Agus Budi Wibowo,1996). 

Selain suasana yang sungguh berbeda dengan warung kopi di Nusantara, cara penyajian dan pembuatan kopi Aceh pun berbeda. Di sini, kopi diseduh melalui beberapa penyaringan sampai pada kekentalan yang diinginkan sehingga membuat kopi lebih harum, nikmat dan memiliki efek rasa yang kuat. Hal ini tentunya menjadi hal yang menarik serta mejadi lebih spesial bagi siapa saja yang menikmatinya. Belum lagi jika anda pernah mendengar kopi terbalik, pasti anda akan bertanya apanya yang terbalik. Ternyata cara penyajian kopi dengan bentuk posisi gelas yang terlungkup dan piring kecil tetap sebagai alasnya. 

Nah, bagaimana neh cara menikmatinya. Ternyata memiliki cara yang berbeda dan spesial bahwa cara menikmatinya tidak dengan cara kita seperti biasa menikmatinya dengan cara menyentuhkan bibir ke dinding gelas lalu meminumnya. Namun menikmatinya ternyata dengan cara yang berbeda dan begitu unik yaitu dengan cara menggunakan sebuah sedotan. Biasanya beberapa warung di Aceh selalu saja bersamaan dengan menjual mie rebus atau biasa kita kenal dengan “Mie Aceh”. Sehingga anda tidak usah merasa heran dan susah untuk mencari dimana lokasi menjual Mie Aceh ini, karena biasanya lokasinya bersamaan dan satu tempat didalam menjual makanan dan minuman ini (Kompasiana, 2011).

Berikut ini beberapa tempat untuk kita dapat mencicipi kenikmatan kopi Tanah Rencong yang telah banyak dikunjungi masyarakat Banda Aceh atau dari kota lain di Indonesia, bahkan juga dari luar negeri. 

1. Dhapu Kupi di Simpang Surabaya, Banda Aceh tidak jauh dari Mesjid Baiturrahman dan Bandara Iskandar Muda. Pemandangan kota Banda Aceh yang semakin rapih dan cantik dari lantai atasnya sungguh spektakuler. 

2. Warkop Solong di Ulee Kareng, Lampenurut, dan di beberapa tempat lainnya di Banda Aceh karena cabangnya yang semakin menyebar. Warung Kopi ini memiliki konsumen yang menyukai kopi yang sedikit lebih kuat aromanya dari kopi biasa. 

3. Ring Road Coffee di stasiun bus Banda Aceh yang paling meriah dari semua yang ada karena di sini para pemuda sering duduk minum kopi sambil melihat pertandingan sepak bola.

4. Tower Kopi di depan Taman Sari Banda Aceh dan hanya 100 meter dari Masjid Baiturrahman adalah tempat berkumpulnya masyarakat kota untuk duduk di luar ruang dan menghadap meja dengan kehangatan kopi kuat Aceh yang harum. 

5. Coffee Bay yang terletak di Ule Lheue ke arah pelabuhan sangat populer bagi para pelancong yang menginginkan rasa kopi Aceh sebelum menyebrang ke Pulau Weh. 

D. Penutup 
Kopi dan ngopi ala Aceh telah berlangsung begitu lama. Tidak serta merta ada di daerah ini. Mengacu pada beberapa pendapat, tampaknya kebiasaan ini telah berlangsung lama. Tentunya, kebiasaan melalui sebuah proses yang begitu panjang. Dalam perjalanan sejarahnya, kebiasaan ini mengalami berbagai perubahan. Misalnya, sebelum tsunami, rata-rata pengunjung warung kopi adalah kaum adam (laki-laki) sedangkan kaum hawa jarang sekali. Selain itu, warung kopi yang ada pada saat ini dilengkapi berbagai hal yang menunjang keberadaan mereka berlama-lama di warung kopi, seperti TV, fasilitas internet, dan sebagainya. 

Warung kopi pada akhirnya menjadi ruang publik multifungsi.Tidak hanya sebagai tempat minum kopi saja/ngopi tetapi juga berfungsi sebagai tempat aspirasi, bisnis, belajar, dan sebagainya. . Selain itu menjadi sebuah trend atau popular dari masyarakat khususnya para remaja serta pemuda di daerah ini didalam menikmati weekend serta ajang berkumpul sebuah komunitas dikelompoknya masing-masing. 

Tentunya, warung kopi yang menjadi ajang kunjungan orang dan begitu fenomenal, sehingga ada yang berpendapat bahwa Aceh dapat disebutkan sebagai negeri seribu warung kopi. Kondisi ini sangat lah menguntungkan sebagai asset pariwisata. Kebiasaan yang sangat berbeda dengan tempat-tempat lain menjadikannya amat menarik bagi wisatawan, baik wisatawan domestic dan wisatawan mancanegara. Tinggal bagaimana mengemas potensi ini menjadi suatu yang menarik oleh masyarakat Aceh beserta pemerintah daerah. 

Sumber : Agus Budi Wibowo, 1996. “Cofee Morning Masyarakat Aceh”. 


====================
Produk-produk CNI telah terkenal sebagai produk-produk bermutu tinggi baik dari segi manfaat maupun kualitasnya. Sebagai bukti komitmen CNI pada kualitas, CNI telah memiliki sistem Jaminan Kepuasan Konsumen (JKK).


Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”
 
Untuk info & Pemesanan :

HUB : MUHAMAD IPANGO
Telp / Hp : 021-7816369
/ 0815 2363 9145 / 0816 160 5367

Kunjungi Toko Online kami di :  




Simak Info Kesehatan di :