.quickedit{ display:none; }

31/12/12

FESTIVAL KOPI: Jadi kuliner unggulan, kopi andalan pariwisata

Compact_coffee
Indonesia menjadikan kopi sebagai  unggulan dalam mengembangkan industri kuliner, selain menjadi duta pariwisata. Menduduki posisi sebagai  produsen kopi dunia terbesar ke tiga setelah Brazil dan Kolombia, kopi Indonesia merupakan salah satu kopi terbaik di dunia.

 "Salah satu dari industri kreatif yang tengah kita kembangkan adalah industri kuliner dan minuman yang kita unggulkan adalah kopi yang dapat menarik kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke tanah air“ ungkap Sapta Nirwandar, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, hari ini.

Sedikitnya satu juta wisman Eropa yang berkunjung ke Indonesia tahun lalu adalah pasar potensial mengingat kebiasaan mereka untuk minum kopi antara 3-5 kali per hari yaitu saat sarapan, pukul 10 pagi, usai makan siang, saat rehat sore dan setelah makan malam. Banyaknya wisman Jepang, Cina dan Korea yang berkunjung ke Indonesia juga memberikan peluang besar untuk menjadi konsumen kopi Indonesia. Bangsa Asia yang dikenal  dengan tradisi dan budaya minum teh kini memiliki kebiasaan minum kopi pula.

Menurut Sapta, dalam acara-acara promosi pariwisata RI  di luar negri maupun bursa-bursa pariwisata besar di dunia seperti ITB Berlin, Arab travel Fair dan bursa-bursa wisata lainnya di Eropa pihaknya selalu memperkenalkan beragam jenis kopi Indonesia dalam booth (stand) dan hasilnya selalu mendapat respons positif bahkan masyarakat yang hadir di event-event itu rela mengantri untuk mendapatkan secangkir kopi.

“Itulah sebabnya, salah satu sektor terbesar yang harus kita jual adalah kuliner dan dalam aktivitas pariwisata, kopi menjadi bagian penting dari industri kreatif," ungkap Sapta.

Untuk semakin mengangkat kopi Indonesia, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pun mendukung Festival Kopi Indonesia pertama yang diberi tajuk Indonesian Coffee Festival 2012 di Ubud, Bali, pada 15-16 September 2012.

Festival ini merupakan hasil kerja sama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Pemkab Gianyar, Kerajaan Ubud, Asosiasii Kopi Spesial Indonesia, Komunitas Kopi, dan Blogger Kopi. Nantinya, selain menampilkan kopi-kopi dari berbagai daerah di Indonesia, dalam festival juga cara mengolah dan menyajikan kopi khas Indonesia. (arh)

====================
Produk-produk CNI telah terkenal sebagai produk-produk bermutu tinggi baik dari segi manfaat maupun kualitasnya. Sebagai bukti komitmen CNI pada kualitas, CNI telah memiliki sistem Jaminan Kepuasan Konsumen (JKK).


Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”
 
Untuk info & Pemesanan :

HUB : MUHAMAD IPANGO
Telp / Hp : 021-7816369
/ 0815 2363 9145 / 0816 160 5367

Kunjungi Toko Online kami di :  




Simak Info Kesehatan di :

30/12/12

Warung Kopi, Simbol ‘Malasnya’ Orang Aceh?

kopi aceh
INSPIRASI untuk membuat artikel ini terbit setelah penulis terlibat diskusi dengan beberapa teman dari luar Aceh. Mereka mempertanyakan esensi rutinitas keseharian masyarakat Aceh yang sering dihabiskan di warung kopi. Malas kah orang Aceh?. Pertanyaan ini tentu penting untuk dijawab. Secara pribadi, penulis yang juga salah satu pelanggan warung kopi melihat bahwa “komunikasi” di warung kopi saat ini dengan segala topiknya merupakan dinamika yang mengindikasikan bahwa disana telah terbentuk berbagai diskursus (wacana) peradaban Aceh yang belum jelas arahnya kemana.

Di era kontemporer ini, warung kopi di Aceh dengan segala tradisinya tak ubahnya laksana miniatur terkecil wajah kehidupan  rakyat Aceh. Hiruk pikuk keseharian sebagian besar elemen masyarakat Aceh hampir tidak pernah terlepas dari persentuhan langsung dengan warung kopi. Hal ini tentu menarik untuk dikaji. Warung kopi telah menjadi center atau  pusat perkumpulan  beragam  komunitas masyarakat Aceh yang mengawali  beragam aktifitas dan rutinitas kesehariannya pada berbagai lini.
Sementara di masa lalu, warung kopi yang kebanyakan didirikan di samping mesjid merupakan ‘rahim’ yang melahirkan sistem kultural yang partisipatorik dan iklim positif dalam kehidupan masyarakat Aceh yang akhirnya turut serta menanam saham peradaban Islam di Aceh yang tersohor hingga ke seluruh penjuru dunia. Bila azan berkumandang, maka bergegaslah mereka berbondong-bondong ke mesjid, bila telah datangnya waktu ’pangajian’ niscaya mereka pun meninggalkan warung kopi menuju tempat pengajian untuk belajar ilmu-ilmu agama dan pengetahuan umum lainnya, bila ada permasalahan-permasalahan maka akan didiskusikan di warung-warung kopi dengan segala etika untuk kemudian akan dibawa ke mesjid jika dirasa didapatnya jalan buntu untuk menyelesaikannya. Maka itu, kita akan menjumpai banyak warung kopi yang posisinya berdekatan dengan mesjid.
Jika kita amati,  ternyata hampir semua komponen masyarakat Aceh  bisa  kita  katakan menjadi pelanggan setia warung kopi. Mulai dari pegawai, pelajar/mahasiswa, aktivis-aktivis pergerakan, para elit parpol, kaum agamawan(teungku-teungku/ustazd) dan sebagainya. Selain itu, hampir tak ada persoalan klasik maupun kekinian masyarakat Aceh yang tidak dibicarakan di sini. Bahkan, di desa-desa, warung kopi merupakan pusat informasi warga. Inilah sepintas gambaran warung kopi yang dirasa bagai sub sistem dalam kehidupan kontemporer rakyat Aceh. Selain itu, pasca tsunami lima tahun yang lalu, kini kita telah menyaksikan fenomena baru, sebagian masyarakat kita khususnya dari kalangan pelajar/mahasiswa,warung kopi laksana rumah kedua bagi mereka. Tak elok dirasa jika melewati hari tanpa nongkrong di warunng kopi. Bahkan, kini kaum hawa pun terlihat semakin terbiasa kita saksikan menjadi penghuni kursi-meja di warung kopi.
Nah, fenomena  kesibukan masyarakat Aceh di warung kopi ini dalam analisa saya telah dijadikan sebagai  potret kehidupan rakyat Aceh bagi orang luar. Sehingga menghasilkan aneka penilaian dari  tatapan siapapun yang memandang Aceh. Dari banyak wawancara yang penulis lakukan dengan masyarakat  luar Aceh, baik komunikasi  dan perjumpaan  langsung maupun lewat dunia maya. Terungkap, bahwa sebagian di antara mereka memandang dan meyakini bahwa menjamurnya warung kopi di Aceh sebagai “simbol kemalasan” masyarakat Aceh. Apalagi ditunjang oleh fakta bahwa warung kopi di Aceh tak pernah sepi pelanggannya meski di jam kerja sekalipun; jam 08 hingga jam 14.00 siang, bahkan hingga sore dan sampai larut malam.
Mereka mempertanyakan; kapan orang Aceh bekerja jika terus-terusan sibuk di warung kopi?, atau, kapan para mahasiswa “belajar” jika dari pagi sampai sore dan berlanjut ‘nonton bola’ hingga larut malam di warung kopi?. Selain itu, sebagian masyarakat Aceh juga memilki pandangan yang sama bahwa warung kopi merupakan “sombol kemalasan”.
Namun demikian, saya meyakini bahwa rutinitas keseharian masyarakat Aceh yang banyak dihabiskan di warung kopi pada dasarnya merupakan sebuah energi positif yang dimiliki oleh masyarakat Aceh sebagai sebuah entitas yang peradabannya pernah dikenal dunia. Eksisnya ‘diskusi-diskusi’ ringan di warung kopi adalah sebagian diantara alasan saya.   Banyak teman saya yang mengakui bahwa mereka ‘banyak sekali’ mendapatkan inspirasi, ide maupun gagasan-gagasan berawal dari diskusi ringan di warung kopi, bahkan ada yang berlanjut menjadi suatu  yang spektakuler, semisal diskusinya berakhir dengan berdirinya sebuah parpol, berdirinya penerbit buku, berbagai macam model usaha,  dan sebagainya.
Apapun pandangan orang luar terhadap tradisi minum kopi kita orang Aceh adalah sah-sah saja. Namun, perlu ada kajian yang lebih dalam untuk membuktikan tradisi kita di warung kopi adalah hal yang positif. Dari beberapa hasil survey kecil-kecilan yang penulis lakukan, terungkap beberapa orientasi penghuni warung kopi di Aceh, misalnya; ke warung kopi sekedar candu ie kupi, cari internet gratis, nonton bola, sekedar nongkrong, berkumpul dengan teman-teman sejawat, rekan kerja dan sebagainya. Disini terlihat bahwa tradisi minum kopi ini telah membentuk sebuah kultur budaya yang tidak jelas arahnya kemana, berbeda dengan tradisi di masa lalu yang seperti yang penulis sebutkan di paragraf pertama, dimana tradisi minum kopi masyarakat Aceh ketika itu pada akhirnya menjadi cikal bakal bagian dari lahirnya peradaban Aceh yang elegan dan memiliki nilai sosial yang kuat.
Dari aspek historis, ternyata tradisi minum kopi di Aceh sudah ada sejak masa kerajaan Islam Aceh. Sebagian sejarawan meyakini tradisi ini merupakan budaya imporan dari Dinasti Turki Usmani(Khilafah Islamiyah) yang saat itu juga memiliki tradisi yang sama. Kita ketahui bahwa Kerajaan Islam Aceh Darussalam dahulu memiliki hubungan yang sangat erat dengan kekhalifahan Islam Turki Usmani, hubungan erat ini pula yang akhirnya menyebabkan terjadinya asimilasi(percaburan) budaya. Tradisi minum kopi masyarakat Aceh di era sekarang ini merupakan bagian dari pertemuan Aceh dengan peradaban lama Turki Usmani yang Islam ketika itu, maka sangat relevan bila kemudian penulis memilki inisiatif bagaimana agar pengaruh dari tradisi minum kopi di Aceh kita kembalikan ruhnya sebagai titik tolak bagaimana melihat perdaban Aceh masa depan berkaca pada peradaban awal Aceh yg telah bersentuhan dengan Turki Usmani sebagai ’Kekhalifahan Islam’ di masa lalu.
Dengan demikian, tradisi minum kopi dengan segala topik komunikasinya mestinya bisa diarahkan ke dalam wacana peradaban impian Aceh di masa depan dengan tetap berlandaskan pada frame (kerangka) dasar nilai-nilai Islam. Hal ini tentu sangat mudah dilakukan, mengingat fasilitas warung kopi di Aceh yang semakin lengkap setelah mayoritas warung kopi di Aceh menyediakan fasilitas internet(Wi-Fi) gratis bagi para pelanggan yang dengannya berbagai informasi penting bisa sangat mudah dan cepat didapatkan. Dengan ini, remaja-remaja Islam di Aceh bisa melihat dunia dari meja warung kopi. Mereka juga tidak memiliki kendala jika hendak beribadah di warung kopi, sebab, meskipun saat ini warung kopi di Aceh didirikan jauh dari mesjid namun disana menyediakan mushalla. Begitu juga diskusi-diskusi yang sangat berkembang disana mestinya bisa lebih terarah ke hal-hal yang positif dan produktif, jadi warung kopi bukan lagi sebatas tempat nongkrong menghabiskan waktu pada hal-hal yang tidak bermanfaat, apalagi jika ke warung kopi hanya untuk huru-hara bersorak tanpa makna yang bahkan justru menyemaratkan Aceh sebagai serambi Mekah yang sedang membangun peradaban Islam baru. Dengan mengembalikan kembali ruh tradisi ’warung kopi’ kita seperti sedia kala, niscaya berbagai persepsi miring orang luar yang selama ini memandang warung kopi sebagai ’simbol kemalasan’ akan terbantahkan dengan sendirinya, jika ’tidak’ mungkin persepsi miring tadi akan menjadi fakta yang tak akan pernah terbantahkan. Wallahu a’lam bisshawab. | Teuku Zulkhairi |

====================
Produk-produk CNI telah terkenal sebagai produk-produk bermutu tinggi baik dari segi manfaat maupun kualitasnya. Sebagai bukti komitmen CNI pada kualitas, CNI telah memiliki sistem Jaminan Kepuasan Konsumen (JKK).


Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”
 
Untuk info & Pemesanan :

HUB : MUHAMAD IPANGO
Telp / Hp : 021-7816369
/ 0815 2363 9145 / 0816 160 5367

Kunjungi Toko Online kami di :  




Simak Info Kesehatan di :

29/12/12

Jangan Percaya Mitos Bahaya Minum Kopi, Ini Hasil Penelitiannya!

Penikmat kopi tak perlu lagi was-was dengan ancaman atau risiko mengidap penyakit kronis. Sepanjang menerapkan pola hidup yang sehat dan aktif, minum kopi tetaplah menjadi kebiasaan yang baik dan tidak menimbulkan ancaman serius bagi kesehatan.

Studi teranyar menunjukkan, individu yang gemar minum kopi tidak memiliki risiko lebih besar mengidap penyakit kronis seperti jantung atau kanker. Bahkan, kebiasaan minum kopi berhubungan dengan risiko lebih kecil mengidap penyakit diabetes tipe 2.

Penelitian itu melibatkan lebih dari 40.000 orang selama hampir satu dekade. Riset yang dipublikasikan dalam American Journal of Clinical Nutrition ini sekaligus menentang sejumlah penelitian sebelumnya yang mengindikasikan adanya risiko minum kopi terhadap peningkatan penyakit jantung, kanker, stroke dan banyak lagi.

"Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa konsumsi kopi tidak berbahaya untuk orang dewasa sehat terkait perkembangan penyakit kronis," kata Anna Floegel, peneliti utama yang juga ahli epidemiologi dari German Potsdam-Rehbruecke.

Pada tahap awal penelitian, ilmuwan mengumpulkan informasi tentang kebiasaan minum kopi, diet, olahraga dan kesehatan dari lebih 42.000 orang dewasa di Jerman tanpa kondisi kronis. Untuk sembilan tahun berikutnya, tim menindaklanjuti kondisi kesehatan peserta setiap dua atau tiga tahun untuk melihat apakah mereka mengembangkan masalah kesehatan, kardivaskular, stroke, serangan jantung, diabetes dan kanker.

Alhasil peneliti menemukan bahwa peminum kopi dan mereka yang tak meminum kopi memiliki risiko yang sama untuk mengembangkan salah satu penyakit kronis. Sebagai contoh, 871 dari 8.689 peserta yang tidak minum kopi berisiko mengembangkan penyakit kronis. Sementara sebanyak 1.124 dari 12.137 orang yang minum kopi (lebih dari empat cangkir kopi berkafein per hari) - sekitar 10 persen berada di kedua kelompok risiko.
Risiko diabetes lebih rendah
Di sisi lain, para peneliti bahkan menemukan peserta yang minum kopi memiliki risiko lebih kecil untuk mengalami penyakit diabetes tipe 2, ketimbang mereka yang tidak minum kopi.

Di antara mereka yang minum empat cangkir sehari, sebanyak 3,2 persen pada akhirnya diketahui memiliki diabetes tipe 2. Sementara peserta yang tidak minum kopi sebanyak 3,6 persen berisko diabetes tipe 2.
Setelah memperhitungkan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi diabetes, seperti berat badan dan merokok, para peneliti menentukan bahwa mereka yang hobi minum kopi 23 persen lebih rendah untuk terserang diabetes.

Tetapi temuan ini tidak serta merta menunjukkan bahwa kopi memiliki peran penting untuk mencegah diabetes tipe 2, tetapi percobaan pada hewan telah mengisyaratkan bahwa bahan kimia tertentu yang ditemukan dalam kopi secara positif dapat mempengaruhi metabolisme.

"Kami tidak mendorong orang untuk mulai minum kopi jika mereka tidak menyukainya. Namun bukti keseluruhan dari efek minum kopi dan kesehatan menunjukkan bahwa tidak ada alasan bagi orang-orang tanpa kondisi kesehatan tertentu untuk mengurangi konsumsi kopi mereka untuk mengurangi risiko penyakit kronis, "kata Rob van Damn, profesor dari National University of Singapore, yang tidak terlibat dalam studi.

====================
Produk-produk CNI telah terkenal sebagai produk-produk bermutu tinggi baik dari segi manfaat maupun kualitasnya. Sebagai bukti komitmen CNI pada kualitas, CNI telah memiliki sistem Jaminan Kepuasan Konsumen (JKK).


Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”
 
Untuk info & Pemesanan :

HUB : MUHAMAD IPANGO
Telp / Hp : 021-7816369
/ 0815 2363 9145 / 0816 160 5367

Kunjungi Toko Online kami di :  




Simak Info Kesehatan di :

28/12/12

Ke Belitong Tak Lengkap Tanpa Kopi


belitong kopi akiong

Banyak orang mengatakan, Anda tak sah disebut pernah mengunjungi Pulau Belitung jika belum mencicipi secangkir kopi di sana. Minum kopi adalah bagian dari kebudayaan masyarakat Belitung. Tak heran jika warung kopi banyak bertebaran di pulau itu.

Belitung, pulau kecil penghasil timah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, secara administratif dibagi menjadi dua, yaitu Belitung dengan ibu kota Tanjung Pandan dan Belitung Timur dengan ibu kota Manggar.

Begitu lekatnya budaya minum kopi sampai-sampai Kota Manggar menjadikan warung kopi sebagai ikon baru industri pariwisata. Hari ini, Rabu (19/8), kota itu menggelar acara massal minum kopi susu sekaligus mencanangkan Manggar sebagai “Kota 1001 Warung Kopi”

Di kota Manggar, puluhan warung kopi bisa dijumpai berjajar di sepanjang ruas jalan di kawasan pusat kota atau Pasar Manggar. Meja dan bangku tempat warga berkumpul minum kopi berjejer memenuhi pinggir jalan. Tinggal memilih warung kopi mana yang Anda suka.

Kedai Kopi Ake
Begitu pula di Tanjung Pandan, warung kopi atau kedai kopi amat mudah dijumpai. Konon kata orang, Kedai Kopi Ake di Pasar Tanjung Pandan amatlah kesohor. Ke sanalah saya mencicipi secangkir kopi saat mengunjungi Tanjung Pandang beberapa waktu lalu.

Jangan bayangkan kedai kopi ini berupa bangunan berdesain keren ala kafe-kafe di Jakarta. Kedai kopi ini terletak di tengah bangunan ruko berdinding kusam yang sebagian catnya mengelupas. Di tengah ruko itu ada sepetak pelataran. Di situlah kedai kopi ini berdiri selama puluhan tahun.

Ada banyak gelas di depan warung itu. Bangunannya jauh dari bagus. Beberapa bagian dinding warung itu gompal. Sementara atapnya dari seng yang sebagian sudah berkarat berwarna coklat tua kehitaman. Di depan warung itu ada meja-meja kecil. Sebagian meja kayu sebagian lagi meja bundar dari semen. Jika ingin duduk di dalam juga ada meja panjang yang menempel di dinding.

Bukan sekadar minum kopi
belitongkopi 
Di Belitung, seperti halnya kebudayaan pesisir di Sumatera, orang minum kopi bukan sekadar menikmati kopinya. Jauh lebih penting dari rasa secangkir kopi adalah interaksi sosial dalam momen minum kopi itu. Maka minum kopi di kedai kopi akan kehilangan makna kalau kita menikmatinya sendirian. Berbeda dengan kedai kopi ala Starbucks di Jakarta di mana orang datang sendiri lalu membuka laptop.

Dalam tradisi Melayu pesisir, minum kopi adalah momen berbagi cerita dan informasi. Juga momen untuk diskusi. Tak heran kalau menghabiskan secangkir kopi bisa mamakan waktu berjam-jam.

“Kalau Anda mau tahu ada apa di Belitung hari ini, tidak perlu membeli koran. Datang saja ke kedai kopi. Semua informasi akan Anda dapatkan di sana,”jelas Kusumah, pemandu perjalanan kami dari agen perjalanan setempat.

====================
Produk-produk CNI telah terkenal sebagai produk-produk bermutu tinggi baik dari segi manfaat maupun kualitasnya. Sebagai bukti komitmen CNI pada kualitas, CNI telah memiliki sistem Jaminan Kepuasan Konsumen (JKK).


Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”
 
Untuk info & Pemesanan :

HUB : MUHAMAD IPANGO
Telp / Hp : 021-7816369
/ 0815 2363 9145 / 0816 160 5367

Kunjungi Toko Online kami di :  




Simak Info Kesehatan di :

27/12/12

Kebiasaan di Keluarga Wariskan Kecintaan Menyeruput Kopi

Tak bisa dipungkiri, aroma yang khas dan rasanya yang nikmat telah menjadikan kopi sebagai salah satu minuman yang sangat digemari orang. Kenikmatan itu tidak saja hanya sebatas di lidah tetapi sudah menjadi bagian dari tradisi keluarga bagi banyak orang. Sebut saja, Fajar, seorang dari pekerja di Lembaga Perkumpulan Partisipasi Untuk Rakyat (Petra) yang sangat suka sekali minum kopi hangat. Anak pertama dari empat bersaudara itu menuturkan, kesukaannya terhadap minuman kopi tumbuh pertama kali sejak ia duduk di bangku kelas 2 SMA. Bermula dari kebiasaan menemani ayahnya minum kopi. Awalnya ia tak pernah mau minum kopi. "Saya selalu dibawa ayah saya ke warung kopi tiap kali ia mau minum", katanya saat dikonfirmasi, Jumat (27/7).

Tapi, rasa penasarannya yang begitu tinggi telah mendorongnya untuk mencoba sekali dua kali. Rupanya, dalam percobaan itu, tak disangka lidahnya berhasil ditawan rasa nikmat kopi itu. Sejak itulah ia kepincut pada kopi.

Ia bahkan mengaku kalau tak minum kopi sehari saja, rasanya ada yang kurang. Dalam sehari ia biasa minum 3 sampai 4 kali satu-satu gelas sedang. Tak bisa dibantahnya, kalau rasa kopi memang nikmat dan aromanya harum.

Seorang gadis berparas cantik berambut berombak dengan panjang sebahu bernama Fitri Silalahi juga berpendapat serupa. Ia tak bisa jauh dari kopi lantaran kebiasaan keluarganya. Rasa sukanya pada kopi tumbuh saat ia memasuki jenjang pendidikan SMP. "Kebiasaan di rumah kami, tiap pagi selalu minum. Tapi cuma ada dua minuman yang disediakan: teh manis dan kopi. Saya pilih kopi karena aromanya sedap di hidung dan rasanya enak dilidah," ungkapnya.

Sejak itu, sampai sekarang, Saban hari Fitri tak pernah bisa jauh dari kopi. Entah pagi atau malam, ia sudah tetapkan agenda untuk minum kopi. "Rutin! Apalagi kalau ada tugas-tugas kuliah dan beban pikiran yang menumpuk, saya langsung menghambur ke dapur dan menyeduh kopi", kata perempuan kelahiran Siantar itu.

Warga Jalan Pancing Medan ini berkisah, kalau ia sanggup tidur larut malam asal minum kopi. "Apalagi kalau saat-saat mau ujian, kopi menemani saya belajar sampai pagi", ujarnya.

Meski sulit ditemukan korelasi antara kopi dengan kegemaran belajarnya, namun mahasiswa baru S2 yang baru berangkat ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan di jurusan Matematika FMIPA Institut Teknologi Bandung itu mengakui, kopi menjadi teman terbaiknya saat-saat melahap ilmu dari baca buku dan menyelesaikan tugas-tugas kuliah.

Ya, begitulah kopi. Sukses mengambil tempat di hati para penikmatnya, bahkan menjadi sahabat bagi banyak anak muda. Kenikmatannya terwariskan sempurna dari kebiasaan di keluarga. (dgh)

====================
Produk-produk CNI telah terkenal sebagai produk-produk bermutu tinggi baik dari segi manfaat maupun kualitasnya. Sebagai bukti komitmen CNI pada kualitas, CNI telah memiliki sistem Jaminan Kepuasan Konsumen (JKK).


Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”
 
Untuk info & Pemesanan :

HUB : MUHAMAD IPANGO
Telp / Hp : 021-7816369
/ 0815 2363 9145 / 0816 160 5367

Kunjungi Toko Online kami di :  




Simak Info Kesehatan di :

26/12/12

Warung Kopi Pontianak

Sungai Kapuas pernah sibuk sebagai jalur transportasi air pada tahun 1960-an. Dari sana lahir tradisi minum kopi di sekitar Pelabuhan Pontianak, Kalimantan Barat. Tempat rehat transportasi air itu lalu bersemi jadi penyangga kelas menengah di seluruh pelosok Kalbar.

Minuman kopi - dengan berbagai variannya - bahkan telah merambah ke kafe-kafe dan hotel-hotel berbintang di Pontianak. Warung kopi telah bermetamorfosis sebagai etalase sosial dan penggerak ekonomi masyarakat sekaligus.

Warung kopi di Pontianak adalah tempat berkumpul hampir semua kalangan dengan semua ragam karakternya. Riuh pembeli bisa dijumpai di hampir semua warung kopi di Pontianak, bukan hanya pada pagi atau siang, melainkan juga malam hingga hari berganti.

Pagi hari, orang datang ke warung kopi sebelum berangkat kerja atau masuk ke kantor. Siang hari, giliran para pekerja dengan mobilitas tinggi, seperti salesman dan pebisnis kelas menengah dan bawah yang memenuhi warung kopi. Malam harinya, orang-orang yang sudah suntuk dengan kesibukan siang hari melepas penat di warung kopi.

Jalan Gadjah Mada dan Jalan Tanjungpura merupakan pusat warung kopi di Pontianak. Selain toko-toko yang buka sejak pagi hingga dini hari, ada banyak pula warung kopi yang buka pada malam hari saja. Warung kopi juga mudah ditemui di pelabuhan dan pasar-pasar tradisional.

Pemilik Warung Kopi Winny, Heriwonoto (28), mengatakan, kebiasaan minum kopi di Pontianak sudah menggejala pada awal tahun 2000-an. Ketika itu orang mulai betah berlama-lama di warung kopi.
Melihat peluang itu, Heri mengubah warung kelontong milik orangtuanya, yang mulai sepi karena bertambahnya pasar swalayan, menjadi warung kopi. Winny lalu menjadi salah satu warung kopi terlaris di Jalan Gadjah Mada.

”Saya berangkat dari hobi minum kopi di beberapa warung kopi yang sudah ada dan melihat orang bisa betah berjam-jam ngobrol di warung kopi. Saya tangkap fenomena itu dengan menyediakan banyak meja bagi pembeli dan tidak membatasi jam duduk mereka,” tutur Heri.

Penyuka minuman kopi memang bisa menghabiskan waktu berjam-jam sambil ngobrol di warung kopi. Obrolan di warung kopi bisa mulai dari persoalan sehari-hari, isu terhangat, bisnis, hingga perbincangan politik.

Suraji (37) mengaku dalam sehari bisa beberapa kali memesan kopi di Djaja, warung kopi langganannya di Jalan Tanjungpura. ”Minum kopi sekaligus bisnis. Saya membeli dan menjual emas. Sering juga saya bertransaksi di warung kopi Djaja, tergantung kesepakatan dengan pembeli atau penjual,” kata Suraji.

Dari warung kopi bahkan bisa lahir keputusan-keputusan politik. Wakil Wali Kota Pontianak Paryadi mengakui, obrolannya di warung kopi ketika menjadi anggota DPRD Kota Pontianak membuahkan peraturan daerah.

Bahkan, sejumlah strategi kampanye ketika mencalonkan diri menjadi wakil wali kota Pontianak berpasangan dengan calon wali kota Sutarmidji pada tahun 2008 dirumuskan oleh Paryadi di sebuah warung kopi.

Di Kota Pontianak, jumlah toko yang memang khusus menjadi warung kopi ada sekitar 100 buah. Namun, ada lebih dari 100 toko lain yang tak melulu menjadi warung kopi. Ada yang, misalnya, juga sekaligus menjadi warung makan.

Kopi bubuk yang diperlukan satu warung kopi bervariasi 1 kilogram-5 kilogram per hari, tergantung dari sedikit atau banyaknya pembeli yang datang. Kopi bubuk ini diperoleh para pengusaha warung kopi dari perajin yang menggoreng dan menumbuk kopi sendiri. Biji kopi berasal dari petani lokal, di antaranya dari Singkawang.

Kopi yang biasanya menjadi kesukaan masyarakat Pontianak adalah kopi hitam yang disaring ampasnya. Namun, ada pula yang suka kopi susu—campuran kopi hitam saring dan krim.

Makin ramainya warung kopi tak terlepas dari harga murah yang ditawarkan. Satu gelas kopi hitam saring rata-rata hanya Rp 2.500, sedangkan satu potong makanan ringan Rp 1.500. Dengan uang sedikit, pembeli puas berlama-lama. Slruuup….cleguk!

Warung kopi pun turut menggerakkan perekonomian Pontianak karena menampung pekerja tanpa pendidikan khusus, seperti lulusan sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas.

Di Warung Kopi Winny, Pontianak, misalnya, Heri menampung 18 pekerja yang kebanyakan berasal dari Kabupaten Landak, Bengkayang, dan Kubu Raya.

Kakak beradik Ite (25) dan Rika (18) yang bekerja di Winny mengakui bahwa warung kopi itu telah menyelamatkan perekonomian keluarga mereka. ”Mereka yang baru bekerja mendapat gaji Rp 450.000, bulan kedua naik menjadi Rp 500.000. Kalau yang sudah lama, bisa mencapai Rp 1,1 juta. Itu gaji bersih karena kebutuhan sehari-hari untuk makan dan tempat tinggal sudah saya tanggung,” tutur Heri.

Warung kopi juga biasa menerima titipan makanan ringan dan makanan tradisional. Satu warung kopi mendapat sedikitnya 10 jenis makanan ringan dari 10 pembuat kue yang berbeda.

Budayawan Tionghoa, Lie Sau Fat atau XF Asali, menuturkan, kebiasaan minum kopi yang kini ada di Pontianak awalnya dibawa oleh sejumlah mantan koki kapal-kapal besar China ke Kabupaten Sambas, Kalbar. ”Mereka adalah etnis Hainan,” tutur Asali.

Asali sudah menjumpai toko kopi di Pemangkat, Sambas, sekitar tahun 1942. Dari Sambas, kebiasaan warung kopi itu lalu diikuti oleh masyarakat di pesisir hingga Pontianak. ”Di Pontianak, tradisi minum kopi makin ramai sejak 1969.”

Namun, warung kopi juga pernah menjadi lahan prostitusi terselubung di daerah Sungai Raya, Pontianak, era tahun 1970-an. Tahun 1990-an, kawasan prostitusi itu dibubarkan.

Etalase sosial bernama warung kopi tidak hanya mengukuhkan perubahan sosial yang ada, tetapi juga berfungsi sebagai penyangga kekuatan sosial ekonomi masyarakat kelas menengah dan bawah di sana selama beberapa dekade.

Apa jadinya pedalaman Kalbar dan Pontianak tanpa jejaring warung kopi.

====================
Produk-produk CNI telah terkenal sebagai produk-produk bermutu tinggi baik dari segi manfaat maupun kualitasnya. Sebagai bukti komitmen CNI pada kualitas, CNI telah memiliki sistem Jaminan Kepuasan Konsumen (JKK).


Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”
 
Untuk info & Pemesanan :

HUB : MUHAMAD IPANGO
Telp / Hp : 021-7816369
/ 0815 2363 9145 / 0816 160 5367

Kunjungi Toko Online kami di :  




Simak Info Kesehatan di :

25/12/12

Yuu…uk Minum Kopi !

Mang Ucup punya hobby minum kopi, sehingga dengan mana setiap hari selalu diawali dengan minum kopi dan diakhiri dengan minum kopi pula. Oleh sebab itu tidak ada salahnya sambil minum kopi kita kongkouw sejenak mengenai minum kopi.
 
Johann Sebastian Bach (1685-1750) seorang komponis Jerman telah menciptakan lagu atau musik minum kopi yang disebut Kaffeekantate. Sedangkan Ludwig van Beehoven mempunyai kebiasaan menghitung jumlah butir kopi. Setiap cangkir kopi yang ia minum tidak boleh lebih atau kurang dari 60 butir kopi. Akaneya Coffee Shop di Jepang memasang tarif minum kopi termahal di dunia. Harga secangkir kopi disitu 9.900 Yen atau sekitar AS$ 38,00.

Raja Swedia Gustav III (1746-1793) ingin membuktikan, bahwa kopi itu racun. Untuk membuktikan hal ini ia membebaskan dua orang terpidana hukuman mati dengan syarat yang satu tidak boleh minum minuman lainnya selain kopi sedangkan yang lain hanya diperkenankan minum teh. Mereka diawasi dan dijaga oleh dua orang Dr. Lucunya yang pertama mati adalah Dr sang pengawas yang pertama setelah itu disusul oleh Dr yang kedua. Sedangkan Raja Gustav III akhirnya mati dibunuh, tetapi si peminum teh itu sendiri bisa mencapai usia lanjut 83 tahun sedangkan si penimum kopi lebih lanjut lagi usianya. Jadi terbuktikan bahwa minum kopi itu sebenarnya sehat bukannya racun.

Kita minum kopi dari cangkir keramik yang lebih dikenal dengan sebutan Porcelain dalam bhs Inggris; kata ini diserap dari bahasa Italy Porcellana yang arti sebenarnya adalah nama kulit kerang yang putih, sebab keramik yang pertama dikenal di Italy (1500) warnanya putih. Keramik ini sudah dikenal sejak Dinasti Han (206 SM -220). Pada awalnya orang Eropa menduga bahwa keramik itu berasal dari bubuk serbuk tulang.

Pembuatan keramik dahulu sangat dirahasiakan sekali, mereka yang mengetahui rahasia ini disebut Arkanisten (Arcanum = rahasia dlm bhs Latin). Di Eropa pertama kali membuat keramik pada tahun 1708, tepatnya di Jerman oleh perusahaan keramik yang paling ngetop di dunia ialah Meissner Porselan. Harga satu cangkir Meissner Porselan bisa mencapai ribuan AS$.

Seorang profesor ahli filsafat ingin memberikan pelajaran kepada murid-muridnya, dimana ia mengundang mereka untuk minum kopi dirumahnya. Diatas meja disediakan berbagai macam jenis cangkir kopi, mulai dari cangkir dari keramik merah, sampai dengan cangkir dari gelas kristal Swaroski yang mahal. Bahkan beberapa dari cangkir tersebut benar-benar hasil produksi dari perusahaan keramik seperti Royal Kopenhagen, Royal Worchester dan ada juga cangkir kuno dari Dinasti Ming. Disamping cangkir-cangkir yang mewah, disediakan pula berbagai macam jenis cangkir murahan dari plastik maupun dari cangkir murahan yang sudah agak retak.

Pertama mereka diundang untuk minum kopi dengan menggunakan cangkir- cangkir mewah yang indah setelah itu untuk minuman yang kedua, mereka harus minum dari cangkir yang murah. Akhirnya ia menanyakan kepada mereka: “Apa bedanya kopi yang diminum dari cangkir mewah dan diminum dari cangkir murahan ?” Ternyata tidak ada !

Memang wajar bahwa manusia selalu menginginkan minum kopi dari cangkir yang mewah, tetapi cangkir yang mewah tidak bisa menggantikan isi kopi yang kita minum. Apabila kita ingin minum kopi bukan cangkirnya yang menentukan melainkan isinya. Entah kita minum dari cangkir yang mewah ataupun cangkir murahan isi dan rasa kopi tetap tidak berubah. Apabila kita merasa haus dan ingin minum kopi, cangkir bagaimana mewahnya sekalipun tidak akan bisa menggantikan dan memenuhi rasa dahaga kita.

Begitu juga di dalam kehidupan ini, kehidupan kita ada jauh lebih penting dan lebih bermanfaat daripada segala macam embel-embelnya, entah itu rumah mewah, jabatan, harta maupun mobil mewah.
Segala macam embel-embel itu sama nilainya seperti juga cangkir tersebut diatas alias tidak bisa menggantikan nilai dan rasa dari aroma kopinya, tetapi banyak sekali orang bersedia menghancurkan hidupnya hanya untuk mendapatkan cangkir kosong!

Rumah mewah, mobil mewah, pakaian mewah, tabungan harta yang berjibun di bank semuanya itu kosong dan tidak ada artinya apabila kita tidak memiliki dan mendapatkan rasa kasih sayang, seperti juga cangkir tanpa kopi. Oleh sebab itu nikmatilah kopi anda dari cangkir yang manapun anda minum, rasa kopi adalah kopi. Jangan sampai kita lebih mementingkan cangkir daripada kopinya.
Mungkin slogan ini bisa ditawarkan oleh mang Ucup kepada perusahaan Nescafe: “Dari cangkir manapun anda minum, kopinya selalu Nescafe !”

Mang Ucup
===============================
 

 ========================================================================

Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”
 
Untuk info & Pemesanan :
HUB : MUHAMAD IPANGO
Telp / Hp : 021-7816369
/ 081523639145

Kunjungi Toko kami di :  
 

24/12/12

Minum Kawa, Tradisi Masyarakat Sawahlunto

Masyarakat Desa Lumindai, Sawahlunto, Sumatera Barat memiliki tradisi unik dalam menikmati minuman kopi. Jika diberbagai daerah kopi dibuat dari biji kopi, namun didaerah ini dibuat dari daun kopi. Tradisi ini dinamakan minum kawa. Biasanya warga menikmati kopi kawa dengan ubi goreng. 

Minuman kawa adalah minuman kopi yang dibuat langsung dari daunnya bukan dari biji kopi seperti yang dikenal selama ini. Warga Desa Lumindai, Sawahlunto mempunyai kebiasaan membuat minuman kawa untuk pagi dan sore hari. Modalnya adalah daun kopi yang banyak tumbuh dilingkungan mereka. 

Daun kopi yang dikumpulkan lalu disusun seperti tusuk sate kemudian dibakar. Setelah agak gosong, lalu diremas-remas hingga menjadi serpihan kecil.
Serpihan kecil inilah yang kemudian dicampur dengan air panas. Untuk mengurangi rasa pahit ditambahkan gula merah atau gula aren. Setelah itu siap dihidangkan. 

Sambil menghisap rokok kretek lintingnya, warga biasa minum kawa dengan ditemani hidangan ubi goreng. Apalagi jika minuman kawa ini diruangan terbuka yang terkena hembusan angin semilir. Warga menyakini minuman kawa bisa meningkatkan stamina dan kesehatan tubuh. (Johardio Anse/Sup)

====================
Produk-produk CNI telah terkenal sebagai produk-produk bermutu tinggi baik dari segi manfaat maupun kualitasnya. Sebagai bukti komitmen CNI pada kualitas, CNI telah memiliki sistem Jaminan Kepuasan Konsumen (JKK).


Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”
 
Untuk info & Pemesanan :

HUB : MUHAMAD IPANGO
Telp / Hp : 021-7816369
/ 0815 2363 9145 / 0816 160 5367

Kunjungi Toko Online kami di :  




Simak Info Kesehatan di :

23/12/12

Ketika Minum Kopi Jadi Budaya

detail berita
DI banyak sudut kota Jakarta bahkan Indonesia , kita bisa menemukan penjual kopi. Mulai warung pinggir jalan, penjual yang menggunakan sepeda, hingga kafe dengan fasilitas WiFi, minum kopi di Indonesia sudah membudaya.

"Budaya minum kopi kita sudah ada dari zaman kolonial Belanda sampai sekarang, makanya sudah jadi kebutuhan utama dalam hidup sebagian orang," ucap Diki Sigit selaku Operasional Manager Liberica Coffee kepada okezone ketika ditemui di Liberica Coffee, Pacific Place , SCBD, Jakarta , baru-baru ini.

Diki menambahkan, permintaan kopi kini meningkat tajam lantaran kopi sudah dianggap kebutuhan sehari-hari. Kopi bahkan menjadi komoditas utama Indonesia , mulai kelas bawah hingga atas terbiasa dengan minuman berwarna pekat ini. Apalagi menurutnya, kopi kini sudah tampil dalam banyak ragam dan variasi. Tak lain demi memuaskan selera penikmatnya.

"Kopi bukan sebatas diminum, tetapi juga sudah dibuat dengan bentuk olahan lain seperti permen, makanan, masih banyak lagi. Kopi punya banyak rasa, bila Anda tidak suka rasa manis, Anda bisa menikmati minuman kopi tanpa gula," tutupnya.


====================
Produk-produk CNI telah terkenal sebagai produk-produk bermutu tinggi baik dari segi manfaat maupun kualitasnya. Sebagai bukti komitmen CNI pada kualitas, CNI telah memiliki sistem Jaminan Kepuasan Konsumen (JKK).


Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”
 
Untuk info & Pemesanan :

HUB : MUHAMAD IPANGO
Telp / Hp : 021-7816369
/ 0815 2363 9145 / 0816 160 5367

Kunjungi Toko Online kami di :  




Simak Info Kesehatan di :

22/12/12

FENOMENA NEGERI SERIBU WARUNG KOPI ( ACEH )


 

Gemuruh itu bagaikan suara gerombolan tawon. Tak henti pagi, siang, dan malam. Mereka masuk-keluar silih berganti. Meski bising, mereka terus berdatangan. Ruangan yang agak luas itu selalu penuh. Inilah suasana di Warung Kopi Jasa Ayah alias Solong Coffee di Ulee Kareng, Banda Aceh, di Negeri Seribu Warung Kopi.

Pemilik warung kopi, H Nawawi, tampak sibuk melayani pengunjung. Karyawannya hilir mudik membawa gelas-gelas kopi dan kue. Pengunjungnya pun tak kalah sibuk. Mereka mencari tempat duduk. Saking penuhnya, kadang mereka tak mudah mendapat tempat duduk. Ada yang duduk berjam-jam, tapi ada juga yang duduk hanya beberapa menit, sekadar minum kopi terus pergi.

”Usaha ini diawali oleh ayah saya tahun 1974. Saya melanjutkannya,” kata Nawawi menceritakan awal warung kopi itu. Warung Kopi Jasa Ayah merupakan warung kopi yang tergolong tua. Warung kopi sejenis inilah yang tergolong warung kopi tradisional di Banda Aceh dan sekitarnya.


Warung kopi tradisional yang dimaksud mulai cara pembuatan minuman kopi yang direbus dan menggunakan saringan saat hendak disajikan, fasilitas yang tak lebih dari meja dan kursi, jenis minumannya, hingga tipe orang yang datang ke tempat itu. Bila kita menggunakan sebutan warung tradisional, tentu ada warung jenis lain. ”Kini banyak warung kopi baru bertumbuhan di Banda Aceh dan di kota lainnya, seperti Lhokseumawe dan Takengon. Warung kopi tradisional seperti Warung Kopi Jasa Ayah bisa digolongkan generasi pertama. Generasi kedua adalah warung kopi yang dikembangkan dengan waralaba. Generasi ketiga adalah warung kopi yang memberi fasilitas tak hanya minuman dan makanan, tetapi juga musik, televisi satelit, dan akses internet,” kata antropolog Teuku Kemal Fasya.


PASCA TSUNAMI

Pasca Tsunami dan perjanjian damai Helsinki di Banda Aceh dan juga kota-kota lain di pantai timur Prov. Aceh, banyak sekali bertumbuhan tempat duduk dan tempat minum itu, baik yang tetap menyebut warung kopi maupun kafe. Jumlah pasti warung kopi itu tidak diketahui, tetapi kita bisa melihat jalan-jalan di Banda Aceh dan beberapa kota lainnya dipenuhi warung kopi. Salah satunya di jalan lingkar yang belum lama dibuka dan kini sudah ada sekitar 10 warung kopi atau kafe.

Fasya mengatakan, menjamurnya warung kopi atau kafe terkait dengan kedatangan sukarelawan dan pekerja, baik dari dalam maupun luar negeri, ke Aceh. Mereka membutuhkan tempat untuk duduk dan minum serta untuk relaksasi dan bertemu relasi. Perubahan lainnya yang tampak adalah jam buka warung kopi, yang semula tak sampai 24 jam tetapi kini muncul warung kopi yang buka 24 jam.

”Para pendatang juga merasa membutuhkan ruang publik yang nyaman. Perkembangan warung kopi atau yang modern disebut kafe belakangan ini karena adanya peluang ekonomi yang terkait dengan kebutuhan ruang publik itu. Orang Aceh menangkap peluang itu,” kata Fasya.

Kebiasaan minum kopi yang sudah ada dan mengakar di kalangan masyarakat di Banda Aceh dan sekitarnya makin berkembang ketika para sukarelawan dan pekerja itu menikmati suasana warung kopi. Akar tradisi minum kopi dan duduk di warung kopi boleh dibilang sudah cukup lama. Melihat fakta sejarah mengenai komunikasi yang intens antara Kesultanan Aceh dan Kesultanan Ottoman yang sekarang berada di Turki, mungkin kebiasaan mengunjungi warung kopi sudah lama ada di kalangan masyarakat Aceh.
”Sehabis shalat subuh hingga malam hari kita bisa menemui orang dari berbagai kalangan berada di warung kopi. Obrolan apa saja ada di warung kopi, dari soal politik, ekonomi, sampai urusan kesenian ada di situ,” kata budayawan LK Ara. Ia menuturkan, kadang orang duduk berjam-jam di warung kopi.
Di mata Ara, memang tidak bisa dimungkiri ada orang yang bermalas-malas di tempat itu sehingga kadang ada yang mengkritik warung kopi tempat bermalas-malas. Namun, menurut dia, banyaknya orang di warung kopi karena juga menjadi tempat untuk menggali ide atau menambah informasi. ”Dari warung kopi kemudian ke tempat kerja. Di tempat kerja mereka bisa mengembangkan ide-ide yang didapat dari warung kopi,” kata Ara sambil menyebut wartawan dan juga sastrawan pemenang Nobel asal Mesir yang mendapat ide-ide di warung kopi sebelum berangkat bekerja.
Fasya mengatakan, orang dengan latar belakang bermacam-macam profesi kerap kali bertemu di warung kopi. Meski tidak ada pembedaan yang jelas, ia menyebutkan kalangan aktivis mahasiswa dan partai politik lebih menyenangi warung kopi tradisional. Namun, kalangan remaja dan muda memilih kafe-kafe yang baru bermunculan dengan fasilitas internet, nonton bareng, hingga musik. Pembedaan lainnya yang juga terlihat adalah cara penghitungan pembayaran minuman. Di warung tradisional kopi kerap kali penghitungan hanya berdasarkan ingatan pegawai warung kopi. Ketika kita menanyakan jumlah yang harus dibayar, si pegawai warung kopi langsung mengatakan angka tertentu. Sebaliknya di warung kopi atau kafe, pemilik menyediakan bukti pembayaran yang akurat dan rinci.

”Kadang kita datang ke warung kopi tradisional pada waktu yang berbeda, harga yang harus dibayar berbeda meski minuman dan kue yang kita beli sama,” kata Fasya mencontohkan hal kecil tersebut, yang ternyata diamati oleh para pengunjung warung kopi.

IDENTITAS

Ada yang menarik dari maraknya warung kopi di NAD. Ketika proyek rehabilitasi hendak berakhir dan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD Nias akan ditutup pada awal 2009, banyak kalangan menduga ekonomi NAD akan anjlok karena aliran dana akan berkurang banyak. Otomatis, usaha warung kopi diduga akan ambruk karena para pendatang juga berkurang. Akan tetapi, yang aneh dari warung kopi, pengunjung tetap marak dan tidak berubah meski pendatang sudah berkurang.

Beberapa kalangan menduga, secara tradisi minum kopi telah mengakar di kalangan rakyat Aceh. Kebiasaan ini mungkin pada suatu massa berkurang, tapi akan muncul kembali pada masa berikutnya. Saat ini gairah itu memuncak lagi. Di sisi lain, perkembangan kafe modern berhasil menarik anak-anak muda untuk memasuki ruang publik itu. Layaknya di kota besar, kafe menjadi bagian identitas anak-anak muda. Kerumunan anak muda mudah ditemui di tempat-tempat itu. Jadi, meski proyek banyak yang telah selesai dan diikuti pendatang yang kembali ke tempat asal, warung kopi tetap marak. Kopi dan kehadiran warung kopi bisa menjadi simbol dan mercu tanda baru bagi NAD.

”Banyak identitas dan simbol terkait dengan Aceh. Ada yang bilang Serambi Mekah, Tanah Rencong, dan juga Cakra Dunia. Kini Aceh mendapat identitas baru terkait dengan warung kopi,” kata Fasya.

Beberapa seniman dan budayawan di NAD pun telah banyak yang menyebut Aceh sebagai Negeri Seribu Warung Kopi. Sebuah identitas yang bisa digunakan untuk menggerakkan pariwisata. Suatu saat bisa saja dibikin Festival Minum Kopi.


====================
Produk-produk CNI telah terkenal sebagai produk-produk bermutu tinggi baik dari segi manfaat maupun kualitasnya. Sebagai bukti komitmen CNI pada kualitas, CNI telah memiliki sistem Jaminan Kepuasan Konsumen (JKK).


Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”
 
Untuk info & Pemesanan :

HUB : MUHAMAD IPANGO
Telp / Hp : 021-7816369
/ 0815 2363 9145 / 0816 160 5367

Kunjungi Toko Online kami di :  




Simak Info Kesehatan di :

21/12/12

Budaya Ngopi Di Aceh VS Budaya Minum Bir DI Jerman

KOPI sejatinya ditemukan oleh bangsa Etiopia, yang pada zaman itu menggunakan biji kopi sebagai suplemen penambah tenaga yang dicampur dengan lemak hewan ataupun anggur, dipercaya dapat memenuhi kebutuhan protein dan energi tubuh.

Kata kopi sendiri berasal dari bahasa arab Qahwah, yang berarti kekuatan. Kata qahwah diadaptasi ke dalam bahasa Turki menjadi Kahfeh. Yang kemudian dibawa ke Eropa oleh bangsa Belanda dan berubah nama menjadi Koffie, kata yang banyak disadur ke dalam berbagai bahasa di dunia seperti Coffe (Inggris), Kaffe (Jerman), dan Kopi (Indonesia).

Secara umum kopi terbagi menjadi dua, Arabika yang merupakan kualitas paling baik, dan Robusta. Selain itu terdapat juga Kopi Luwak, yang sering disebut-sebut sebagai kopi dengan kualitas tertinggi, karena diperoleh dengan susah payah. Itu pun harus menunggu beberapa hari untuk menghasilkan hanya beberapa biji kopi yang konon katanya berasal dari (maaf) kotoran Luwak (sejenis musang). Tentu saja hal ini menjadikan kopi luwak menjadi kopi termahal, dan hanya segelintir orang yang beruntung saja yang pernah menikmati kopi jenis ini.

Berbangga hatilah Aceh dimana Kopi Gayo, yang berasal dari dataran tinggi tanah Gayo merupakan salah satu varietas kopi Arabika berkualitas tinggi. Bahkan di disebut-sebut sebagai kopi organik terbaik di dunia. Hal ini yang menyebabkan kopi sangat identik dengan orang-orang Aceh. 7 dari 10 orang pria di Aceh adalah peminum kopi, walaupun bukan pecandu berat. Belum lagi kalau kita berbicara mengenai warung kopi. Sebelum terjadinya Tsunami saja warung kopi sudah menjamur di seluruh daerah Aceh, baik di pelosok desa maupun di kota besar khususnya kota Banda Aceh. Hal ini yang saya rasakan sewaktu menjadi penduduk aceh kurun waktu 2001-2002. 

Bagi kami anak muda Aceh, tiada sah satu hari itu berlalu tanpa disertai dengan aktifitas nongkrong di warung kopi. Aktifitas ini bahkan bisa menyita waktu sampai 3 kali sehari, yaitu pagi, siang, dan malam. Pagi hari pun, sebelum memulai aktifitas baik itu kuliah ataupun pergi kerja, masih disempat-sempatkan untuk singgah sebentar ke warung kopi. Hanya untuk bisa merasakan hangatnya seruput kopi di pagi hari yang dingin.

Pengalaman saya pada waktu itu merasakan betapa kuatnya daya tarik warung kopi sebagaimana yang dirasakan oleh sebagian besar pria di Aceh. Sebagai mahasiswa tingkat satu pada waktu itu, warung kopi bukan hanya tempat untuk menikmati secangkir kopi, namun juga sebagai wadah anak-anak muda Aceh berkumpul dan saling bersilaturahmi. Pulang kuliah siang hari, sudah menjadi rutinitas kami untuk ngumpul-ngumpul di warung kopi untuk melepas penat sesaat dan lari dari padatnya jadwal kuliah yang sudah menguras tenaga dan pikiran. Tempat yang menjadi favorit pada waktu itu dimana lagi kalau bukan di Ulee Kareng, yang terkenal dengan kopi Ulee Karengnya bukan hanya dikenal oleh orang-orang Aceh, namun juga turis-turis mancanegara yang sama-sama sebagai pecinta kopi. 

Sebut saja nama-nama Cafe Flamboyan, Terapung, dan Solong. Semua anak muda kota Banda Aceh pasti pernah menikmati kopi di situ. Aktifitas itu kadang kami ulangi lagi di malam harinya di saat pikiran perlu di-refresh akibat pusing sehabis belajar, atau cuma karena suntuk tak ada kerjaan di rumah. Karena kemana lagi kami harus mencari pelampiasan kesenangan, di tempat dimana tidak adanya tempat hiburan semacam mall, apalagi klab malam. Tapi untunglah, karena tanpa adanya tempat-tempat sejenis itu, kami masih bisa menjaga akidah kami menjadi seperti sekarang.

Saya pernah baca sebuah cerita di salah satu artikel mengenai kebiasaan orang Aceh untuk duduk berlama-lama di warung kopi. Saya rasa sangat tepat menunjukkan kondisi “sosial” pria-pria Aceh pecinta warung kopi. Ceritanya tentang seorang suami yang setiap hari menghabiskan waktunya semalaman di warung kopi. Hanya dengan bermodalkan secangkir kecil kopi, ia bisa duduk tiap sepulang kerja dari jam 7 sampai jam 11 malam. Setiap malam. Sampai-sampai istrinya tak habis pikir. 

Padahal setiap malam ia juga menyajikan kopi ke suaminya, tapi tetap saja sang suami keluar setiap malamnya. Dengan alasan kopi yang dijual di warung lebih enak terasa di lidah. Diam-diam si istri membeli bubuk kopi yang sama seperti yang dijual di warung kopi tersebut, dan menyajikan ke suaminya keesokan malam. Namun apa lacur, si suami tetap berkata bahwa kopi yang dijual di warung terasa lebih nikmat. Jadi apa sebenarnya daya tarik warung kopi di Aceh?

Budaya kumpul-kumpul itu yang sebenarnya menjadi inti dari budaya ngopi masyarakat Aceh. Memang kualitas kopi tetap berpengaruh, tapi hal itu sama sekali bukan satu-satunya indikator larisnya suatu warung kopi di Aceh. Teman sewaktu minum kopi lah yang menjadi faktor kunci dari kenikmatan menghabiskan waktu berjam-jam di warkop (istilah mereka). Tak masalah mau di warung gubuk kecil, maupun di cafe sekelas international, yang penting dengan siapa mereka menghabiskan waktu bersama. 

Fenomena ini menunjukkan hal yang positif, setidaknya bagi saya. Dimana saya melihat orang Aceh terbukti sangat senang bersilaturahmi, berkumpul dengan sesamanya. Meskipun hanya untuk membicarakan omongan-omongan ringan yang tak berbobot dan cenderung penuh khayalan (cat langet istilah orang Aceh, atau kombur istilah orang Medan). Kalau tidak percaya, lihatlah warung kopi yang terletak di sudut persimpangan tujuh jalan Ulee Kareng. 

Mulai dari pejabat dengan mobil-mobil mewah terparkir di depan warung sampai mahasiswa dengan motor-motor bebek terparkir di halaman belakang. Hal yang dibicarakan juga beragam, dari soal politik negara yang carut marut, harga bensin yang terus naik, tender proyek, sampai masalah bagaimana mendapatkan hati sang gadis pujaan.

Pengalaman itu yang saya rasakan kembali ketika saya menginjakkan kaki di tanah Jerman ini. Perasaan seolah bagaikan de javu dimana sewaktu saya melihat pemandangan puluhan orang Jerman tua dan muda (mayoritas pria) duduk dalam sebuah warung minum dan menikmati segelas besar bir. Ya, bir memang, bukan kopi. Tetapi dengan atmosfer yang sama dengan yang saya rasakan ketika di Aceh dulu. Hanya jenis minuman yang disajikan saja yang berbeda. Hampir di setiap sudut jalan di semua kota di Jerman bisa ditemukan warung bir. 

Hal yang sama terjadi di Aceh dengan warung kopinya. Ketika saya bertanya ke salah seorang teman Jerman saya, hal apa yang menarik dari acara kumpul-kumpul dan menikmati segelas bir itu? “Well, bukan rasa bir nya yang membuat kami enjoy,” jawabnya. “Kami bisa saja menikmati bir di rumah. Tetapi berkumpul bersama kerabat dan teman-teman lah yang membuat kami sangat menikmati saat-saat itu”, tambahnya. Wow, hal yang sama yang saya rasakan ketika di Aceh, pikir saya.

Bukan maksud saya untuk menyamakan budaya minum bir dengan budaya minum kopi. Saya tau bir haram bagi agama Islam. Namun hal itu (bir) merupakan hal yang lumrah dan sangat lazim ditemukan di Jerman. Sama halnya dengan kopi di Aceh. Biarlah mereka hidup dengan agama dan keyakinannya, tak usahlah kita permasalahkan. Yang mau saya ulas di sini adalah kesamaan tingkah yang membuat saya amazed. Bahwasanya orang barat yang biasanya terkenal sangat individualis, ternyata di belahan Eropa sini masih juga menjunjung budaya silaturahmi, saling menjaga persaudaraan. 

Seperti halnya pengalaman saya ketika mengunjungi Volkfest (mirip seperti Oktoberfest) lalu, dimana dalam satu area luas terdapat beberapa warung minum bagaikan hangar pesawat yang didalamnya dapat menampung sampai 100 orang. Didalamnya lah berkumpul orang-orang Jerman menikmati bir sambil berbincang-bincang dengan kerabatnya. Tidak ada gap antara si kaya dan si miskin, semuanya sama di dalam situ. Mulai dari pengusaha berjas sampai petani dengan jeans belelnya duduk di satu meja mengobrol seru. Inilah orang Jerman, batin saya.

Saya yakin, tidak semua hal yang berhubungan dengan budaya barat bisa kita justifikasikan negatif. Dari apa yang saya alami selama di Jerman ini bisa menjadi bukti konkret bahwa masih ada hal-hal positif lainnya yang bisa kita pelajari dari budaya barat. Bukan ajakan untuk minum bir tentunya. Buang jauh-jauh pikiran itu. Petiklah hal-hal yang baik kemudian buanglah hal-hal yang buruk.

====================
Produk-produk CNI telah terkenal sebagai produk-produk bermutu tinggi baik dari segi manfaat maupun kualitasnya. Sebagai bukti komitmen CNI pada kualitas, CNI telah memiliki sistem Jaminan Kepuasan Konsumen (JKK).


Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”
 
Untuk info & Pemesanan :

HUB : MUHAMAD IPANGO
Telp / Hp : 021-7816369
/ 0815 2363 9145 / 0816 160 5367

Kunjungi Toko Online kami di :  




Simak Info Kesehatan di :

20/12/12

Serial Peradaban Islam : Tradisi Minum Kopi



Bulan kemarin, saya diundang syukuran teman istri saya dalam rangka pembukaan café baru yang berlokasi di daerah Maroubra, Sydney. Di sana, saya disuguhi kopi susu, sedangkan istri saya dibuatkan late, varian kopi Italia selain Capuccino. Rasanya yang khas membuat saya dan istri ketagihan. Kata istri, rasanya sedikit lebih enak daripada kopi buatan café lain di Sydney yang pernah ia coba. 

Peluang bisnis café di Sydney memang cukup menjanjikan. Hal ini disebabkan masyarakat Sydney mempunyai tradisi minum kopi yang cukup kuat. Di sini, kopi sudah menjadi bagian dari kehidupan keseharian. Aktivitas sehari-hari masyarakat tidak dapat dilepaskan dari yang namanya kopi. Bahkan, minum kopi merupakan bagian penting dalam bersosialisasi dan bernegosiasi. 

Tidak hanya di Sydney, tradisi minum kopi juga dijumpai hampir di seluruh wilayah di dunia. Lebih dari 1,6 miliar cangkir kopi diminum setiap harinya oleh penduduk dunia. Jumlah sebanyak itu dapat digunakan untuk mengisi sekitar 300 buah kolam renang ukuran standar olimpiade. Tidak mengherankan jika kopi termasuk komoditi terbesar kedua setelah minyak dalam skala industri global.

Kopi pertama kali ditemukan di Ethiopia lebih dari 1200 tahun yang lalu. Saat itu para pekerja berjuang keras melawan rasa kantuk. Sampai dengan suatu hari, seorang Arab bernama Khalid menemukan suatu ramuan yang sederhana, akan tetapi mengubah kehidupan manusia. 

Khalid adalah seorang penggembala kambing. Ia meggembalakan kambingnya di sepanjang dataran Ethiopia. Ia mengamati bahwa kambing-kambingnya menjadi segar dan trengginas setelah memakan suatu bijian tertentu. Ia pun mengambil bijian tersebut kemudian merebusnya untuk kemudian dijadikan sebuah minuman yang dinamakan al qahwa yang berarti kopi. 

Tidak hanya para pekerja yang meminum kopi untuk menahan kantuk. Para sufi di Yaman juga minum al qahwa agar bisa melek untuk bisa melaksanakan qiyamul lail di sepertiga malam terakhir. Selanjutnya, kopi tersebar di penjuru dunia Islam melalui jamaah haji, pedagang, dan petualang. Pada akhir abad 15 kopi mulai populer di Makkah. Sementara itu, Di Turki, tradisi minum kopi menjadi popular pada abad ke-16. 

Kopi masuk ke benua Eropa melalui kontak perdagangan dengan Afrika Utara dan Mesir. Warung kopi pertama kali di Eropa muncul di Kota Venesia, Italia pada tahun 1643. Sejak saat itu, kopi mulai tersebar ke wilayah lain di Eropa, seperti di London, Inggris. Adalah seorang pedagang Turki yang bernama Pasqua Rosee yang membawa kopi ke Inggris pada tahun 1650. Di tahun 1700, kurang lebih ada 3000 kedai kopi yang tersebar di daratan Inggris. Pada zaman tersebut, kedai kopi menjadi arena diskusi politik sekaligus sebagai sarana tumbuhnya gerakan kebebasan.

Pada awalnya, penyajian kopi di Eropa sebagian besar dipengaruhi oleh cara tradisional orang Islam dalam menyiapkan minuman. Dalam hal ini, serbuk kopi dicampur dengan gula kemudian dituangi air panas. Karena tidak disaring, setelah kopi di minum, masih ada ampas yang tersisa. Baru kemudian pada tahun 1683, sebuah kedai kopi menemukan sebuah cara baru dalam penyajian kopi. Sudah barang tentu, kedai tersebut kemudian menjadi tempat favorit penduduk untuk menikmati kopi.

Salah satu jenis minuman kopi yang terkenal saat ini adalah Cappuccino. Nama Cappuccino sendiri terinspirasi dari perjuangan seorang pendeta biara Capuchin yang bernama Marco D’Avianos saat melawan Turki yang mengepung kota Wina pada tahun 1683. Menyusul mundurnya bangsa Turki, penduduk kota Wina membuat kopi dari serbuk kopi yang ada dalam karung-karung peninggalan bangsa Turki. Karena rasa kopi Turki terlalu kuat di lidah mereka, mereka mencampurnya dengan krim dan madu. Hal ini membuat warna kopi berubah menjadi cokelat, sama seperti jubah biarawan Capuchin. Para penduduk kota Wina kemudian menamakan kopi tersebut Cappuccino sebagai penghormatan atas jasa-jasa Marco D’Avianos.


====================
Produk-produk CNI telah terkenal sebagai produk-produk bermutu tinggi baik dari segi manfaat maupun kualitasnya. Sebagai bukti komitmen CNI pada kualitas, CNI telah memiliki sistem Jaminan Kepuasan Konsumen (JKK).


Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”
 
Untuk info & Pemesanan :

HUB : MUHAMAD IPANGO
Telp / Hp : 021-7816369
/ 0815 2363 9145 / 0816 160 5367

Kunjungi Toko Online kami di :  




Simak Info Kesehatan di :